Zaid Bin Haritsah, anak angkat kesayangan Rasul

Muslim Tangguh – Terkisah di sebuah padang nan tandus, terdapat seorang anak kecil yang bernama Zaid Bin Haritsah. Kulitnya berwarna agak gelap, tubuhnya kecil, anaknya sabar terhadap cobaan dan ujian. Ibu Zaid bernama Su’da, ayahnya bernama Haritsah. Mereka sangat menyayangi Zaid dan sangat bersyukur di karuniai seorang anak laki-laki seperti Zaid.

Pada suatu saat ibunya ingin mengunjungi kerabatnya di kampung bani Ma’an. Namun suaminya tak bisa mengantar istrinya. Beruntungnya ada rombongan pedagang yang hendak kesana. Ayahnya pun menumpangkan istri dan putranya, hingga tiba dengan selamat di bani Ma’an. Keluarganya di Bani Ma’an menyambut dengan gembira. Apalagi Zaid Bin Haritsah anak yang sangat lucu dan lincah berlarian kesana kemari.

Namun kegembiraan kaum itu menjadi terusik, tiba-tiba saja gerombolan perampok datang menyerbu Bani Ma’an. Semua menjadi kacau balau, ibu-ibu dan anak-anak menjerit ketakutan. Gerombolan perampok tak segan membunuh dengan senjata tajam. Para penduduk tak berdaya melawan kejahatan perampok tersebut.

Perampok itu merampas harta dan benda penduduk Bani Ma’an. Mereka juga menculik beberapa pria dengan sangat kejam.

“Tolong…! Tolong…! Lepaskan Aku!” Teriak Zaid sambil meronta-ronta.

Tetapi penculik itu bertubuh besar. Tenaganya pun sangat kuat, Zaid menjadi lemah karena kewalahan. Dia tidak bisa melawan perampok dan berhasil meringkus Zaid. Pria jahat itu berhasil memaksa Zaid naik kuda dan melarikan Zaid jauh-jauh. Saat itu Zaid berusia delapan tahun, dia mengalami peristiwa yang sangat menyedihkan.

Dengan kesedihan mendalam, Su’da yakni ibunda Zaid mengadu kepada suaminya. Ayah Zaid langsung pingsan mendengar kabar itu. Ketika siuman Haritsah menjerit.

“oh Zaid! Malang sekali nasibmu Nak, kamu masih kecil sudah menderita.

Haritsah sangat mencintai putranya dan dia pun memulai mencari Zaid dengan berbekal buntalan di pundaknya. Dia menjelajahi padang pasir dan masuk ke kampung demi kampung namun tiada seorang pun yang mengetahuinya. Sambil berjalan diapun bersyair :

 

Kutangisi Zaid, ku tak tahu apa yang telah terjadi. Dapatkah ia di harapkan hidup, atau telah mati?demi Allah ku tak tahu, sungguh aku hanya bertanya. Apakah di lembah ia telah celaka, atau di bukit ia telsh binasa? Di kala matahari terbit ku terkenang padanya. Bila surya tenggelam ingatan kembali menjelma. Tiupan angina yang membangkitan kerinduan pula. Wahai, alangkah lamanya duka nestapa, diriku jadi merana.

 

Sementara itu, Zaid dipaksa menempuh jarak yang sangat jauh, Zaid di perlakukan seperti hewan, dia di bentak, di hina serta di jual di pasar Ukaz. “Ayo beli! Ayo beli! Anak ini akan saya jual!”

Hakam Bin Hazm datang membeli Zaid. Ternyata Hakam menghadiahkannya kepada Khadijah Binti Khuwailid. Ya betul! Dia adalah istri dari Rasulullah SAW. Kemudian, Khadijah menghadiahkannya kepada suaminya. Nabi Muhammad menerima dengan riang gembira. Beliau berkata, “Kamu anak baik, kamu tak pantas menjadi budak. Sekarang kamu telah merdeka. Bahkan kamu boleh tinggal di rumahku.”

Alangkah leganya hati Zaid, dia bukan lagi budak yang hina. Kini Ia mendapat kehormatan tinggal bersama Nabi Muhammad. Kebaikan pasangan mulia tersebut membuat Zaid betah tinggal disana sehingga ia bisa melupakan kesedihan berpisah dengan kedua orangtuanya. Rasul mengasuh Zaid dengan kasih sayang dan di didik dengan ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Dia juga seorang anak yang berbakti sehingga Rasulullah dan istrinya sangat menyayangi Zaid.

Pada musim haji banyak orang menziarahi Ka’bah di Mekah. Diantara peziarah itu ada yang mengenali Zaid. Mereka bersorak gembira. Mereka menanyakan kabar dan berkata bahwa ayah dan ibunya sangat rindu. Zaid pun terharu, dia jadi teringat dengan kedua orangtuanya. Zaid menyampaikan pesan bahwa dia baik-baik saja. Sekarang tinggal bersama manusia paling mulia serta menyayanginya sepenuh hati.

Kabar baik itu sampai ke orangtua Zaid, Haritsah dan pamannya segera menemui Nabi Muhammad. Haritsah berkata, “Wahai pria yang terhormat! Tuan terkenal suka membebaskan orang tertindas. Kedatangan kami untuk meminta putraku kembali. Zaid korban penculikan orang jahat. Sudilah membebaskannya kembali kepada kami. Dan terimalah uang tebusan yang telah kami siapkan ini.”

Nabi Muhammad tidak akan menerima uang tebusan karena beliau sudah membebaskan Zaid dari perbudakan. Tapi Nabi Muhammad sulit memutuskan karena sudah saying kepada Zaid. “kita serahkan saja kepada Zaid, jika dia memilih ayahnya, maka aku akan mengembalikannya tanpa tebusan. Tapi, jika Zaid memilih bersamaku, maka aku tak akan menyerahkan orang yang telah memilihku.”

Zaid pun sempat berpikir, namun dengan tegas dia menjawab bahwa Nabi adalah pilihan terbaiknya, akhirnya Zaid memilih tinggal bersama Rasulullah. Haritsah pun merelakannya. Sebab Zaid bersahabat dengan seorang manusia hebat. Nabi pun terharu mendengar pilihan Zaid. Kemudian Nabi Muhammad membibing Zaid ke Ka’bah dan mengumumkan bahwa Zaid adalah anak angkatnya. Sejak saat itu, penduduk Mekah menyebutnya Zaid Bin Muhammad.

Beberapa waktu kemudian turunlah wahyu yang pertama. Zaid langsung memeluk islam. Meski ketika itu dia masih anak-anak namun pemikirannya sudah cerdas dan telah mengetahui agamanya dengan benar. Sehingga wajar jika Nabi Muhammad semakin menyayanginya karena Zaid anak yang jujur, hatinya bersih dari kejahatan, lidah dan tangannya terpelihara dari segala yang buruk. Para sahabat memanggilnya ‘Zaid Kesayangan’.

Kemudian Zaid tumbuh dewasa yang kuat dan gagah berani. Dia seringkali membela agama di medan perang. Jika dia ikut berperang, maka Rosul akan menunjuknya menjadi komandan. Suatu ketika, pasukan romawi mengancam di perbatasan. Keadaan ini membahayakan keselamatan umat islam. Maka Rasulullah menyiapkan pasukan islam. Mereka diberangkatkan menuju perang Mu’tah.

Perang ini sungguh sangat berat, karena banyak pasukan Romawi dengan persenjataan yang canggih. Namun kaum muslimin tidak gentar, apalagi mempunyai komandan tangguh yakni Zaid Bin Haritsah. Ketika itu tahun ke delapan hijriah, tepatnya di bulan jumadil awal. Perang yang tak seimbang terjadi, Zaid bertempur dengan gagah berani. Dia menyemangati pasukannya berjuang membela agama dan Tanah air.

Tapi jumlah pasukan lawan memang terlalu banyak. Zaid bin Haritsah pun mati syahid di medan pertempuran. Dia wafat sebagai pahlawan yang mulia. Namun pengorbanan Zaid Bin Haritsah tidak sia-sia. Pasukan islam semakin bersemangat memerangi tentara Romawi. Termasuk pejuang yang gagah berani bernama Usamah bin Zaid. Pemuda itu adalah putra kandung Zaid.

Akhirnya pertempuran bisa diselesaikan. Umat islam memakai taktik yang jitu sehingga bisa menahan serangan pasukan romawi. Namun umat islam dilanda kesedihan, sebab kehilangan komandan yang hebat. Zaid di makamkan tak jauh dari lokasi perang. Dia dijanjikan surga oleh Allah karena telah menjadi pahlawan bagi agama dan Negara. Nabi Muhammad sangat bangga punya sahabat seperti Zaid.YH

 

sumber : Zaid Bin Haritsah, Rina Novia